BISMILLAAHIR RAHMAANIR RAHIEM.

Segala puji hanya milik Allah, Tuhan seluruh alam. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan ke haribaan Nabi dan Rasul terakhir, segenap keluarga dan para sahabatnya. Amma ba’du:

Sungguh agama Islam amat memperhatikan dan melindungi manusia. Termasuk tujuan pokoknya ialah: memelihara agama, jiwa, martabat, akal dan harta. Setiap faktor yang menafikan salah satu dari kelima hal tersebut adalah diharamkan. Sebab termaktub dalam sebuah kaidah syar’iyah: “Laa dharara walaa dhiraara,” tak boleh membahayakan diri sendiri dan apatah lagi orang lain.”

Sungguh para musuh Islam telah berusaha –dari dulu hingga sekarang- memerangi, memfitnah orang-orang muslim dan mengeluarkan mereka dari agamanya dengan berbagai cara dan metode. Allah berfirman yang artinya: “Mereka tidak henti-hentinya memerangi kalian sampai dapat mengembalikan kalian dari agama kalian (kepada kekafiran) seandainya mereka mampu.” (al-Baqarah: 217). Mereka melakukan hal ini, karena mereka tahu bahwa kekuatan kaum muslimin terletak pada kadar kekuatan mereka dalam berpegang teguh dengan ajaran agama dan sikap berbeda dengan musuh-musuhnya. Sedangkan kelemahannya adalah terletak pada hal yang sebaliknya. Maka untuk melumpuhkan mereka, musuh-musuhnya menggunakan cara terburuk dan terkeji; baik dalam bidang militer, politik, perdagangan, kebudayaan, sosial, seni dan psikologi. Mereka berpendapat, bahwa jalan pintas untuk menghancurkan umat ini adalah dengan melumpuhkan generasi mudanya, terutama dengan senjata trisula mereka; wanita, gelas (khomer) dan narkotika.

Dari trisula ini yang paling berbahaya adalah narkotika. Karena teralamatkan langsung kepada jantung umat, benteng dan harapan mereka. Kepada para pemuda yang akan mengemban tugas umat di masa mendatang, tempat harapan dan yang berani mengorbankan nyawa demi kemuliaan mereka. Musuh amat tahu, jika generasi mudanya lumpuh maka runtuhlah suatu bangsa dan menjadi bahan santapan empuk.

Sungguh amat ironis, banyak pemuda umat yang telah terjerumus dalam racun narkotika. Mereka lebih menuruti panggilan setan, sehingga tersungkur dalam tawanan hawa nafsu dan syahwat. Jadilah mereka bulan-bulanan musuh seperti buah bidak yang digerrakkan sesuka hati pemainnya. Ini merupakan sinyal bahaya dan bencana yang harus mendapatkan penanganan serius dan secepatnya dengan melenyapkan racun ini dari pangkal dasarnya.