Sebagian manusia ketika berbicara tentang senyum mengaitkan dengan
pengaruh psikologis terhadap orang yang tersenyum. Mengkaitkan boleh-boleh
saja, yang oleh kebanyakan orang boleh jadi sepakat akan hal itu. Namun
seorang muslim memandang hal ini dengan kaca mata lain, yaitu kaca mata
ibadah, bahwa tersenyum adalah bagian dari mencontoh Nabi saw. yang
disunnahkan dan bernilai ibadah.

Para pakar dari kalangan muslim maupun non muslim melihat seuntai
senyuman sangat besar pengaruhnya.
Dale Carnegie dalam bukunya yang terkenal, Bagaimana Anda Mendapatkan
Teman dan Mempengaruhi Manusia menceritakan:
Wajah merupakan cermin yang tepat bagi perasaan hati seseorang. Wajah
yang ceria, penuh senyuman alami, senyum tulus adalah sebaik-baik sarana
memperoleh teman dan kerja sama dengan pihak lain. Senyum lebih berharga
dibanding sebuah pemberian yang dihadiahkan seorang pria. Dan lebih
menarik dari lipstik dan bedak yang menempel di wajah seorang wanita.

Senyum bukti cinta tulus dan persahabatan yang murni.
Ia melanjutkan, Saya minta setiap mahasiswa saya untuk tersenyum kepada
orang tertentu sekali setiap pekannya. Salah seorang mahasiswa datang
bertemu dengan pedagang, ia berkata kepadanya, Saya pilih tersenyum
kepada istriku, ia tidak tau sama sekali perihal ini. Hasilnya adalah saya
menemukan kebahagiaan baru yang sebelumnya tidak saya rasakan
sepanjang akhir tahun-tahun ini.

Yang demikian menjadikan saya senang tersenyum setiap kali bertemu dengan orang. Setiap orang membalas
penghormatan kepada saya dan bersegera melaksanakan khidmat -pelayananterhadap
saya. Karena itu saya merasakan hidup lebih ceria dan lebih mudah.
Kegembiraan meluap ketika Carnegie menambahkan, Ingatlah, bahwa senyum
tidak membutuhkan biaya sedikitpun, akan tetapi membawa dampak yang
luar biasa. Tidak akan menjadi miskin orang yang memberinya, justeru akan
menambah kaya bagi orang yang mendapatkannya. Senyum juga tidak
memerlukan waktu yang bertele-tele, namun membekas kekal dalam ingatan
sampai akhir hayat. Tidak ada seorang fakir yang tidak memilikinya, dan
tidak ada seorang kaya pun yang tidak membutuhkannya.

Betapa kita sangat membutuhkan sosialisasi dan penyadaran petunjuk Nabi yang
mulia ini kepada umat. Dengan niat taqarrub ilallah -pendekatan diri kepada
Allah swt.- lewat senyuman, dimulai dari diri kita, rumah kita, bersama istri-istri
kita, anak-anak kita, teman sekantor kita. Dan kita tidak pernah merasa rugi
sedikit pun! Bahkan kita akan rugi, rugi dunia dan agama, ketika kita menahan
senyuman, menahan sedekah ini, dengan selalu bermuka masam dan cemberut
dalam kehidupan.

Pengalaman membuktikan bahwa dampak positif dan efektif dari senyuman,
yaitu senyuman menjadi pendahuluan ketika hendak meluruskan orang yang
keliru, dan menjadi muqaddimah ketika mengingkari yang munkar. Orang yang
selalu cemberut tidak menyengsarakan kecuali dirinya sendiri. Bermuka masam
berarti mengharamkan menikmati dunia ini. Dan bagi siapa saja yang mau
menebar senyum, selamanya ia akan senang dan gembira.